Satu-satunya hal positif yang membuat saya begitu bahagia pada saat menjelang pemilu adalah begitu banyaknya orang yang tiba-tiba berubah menjadi simpatik, ramah dan dermawan. Lihatlah baliho-baliho, poster-poster dan iklan-iklan di media massa menampilkan sosok caleg dengan wajah yang begitu menawan, bersahaja, mengumbar senyum, lengkap dengan kata-kata me ‘mohon’. Padahal sebelumnya banyak diantara mereka adalah seorang tukang palak, tukang gusur, orang yang pelit, penindas, sosok yang sombong, dan banyak juga yang kerjanya tukang sunat, alias sunat gaji buruh, gaji karyawan, sunat BLT, sunat dana BOS bahkan waktu panitia 17-an dikampungnya sempat2nya korupsi. Namun menjelang PEMILU ini wajah2 itu langsung berubah disertai dengan janji-janji pengabdian kepada masyarakat, janji melindungi orang2 tertindas, janji untuk berjuang bersama rakyat, memberantas korupsi kalau terpilih, ya kalau terpilih….
Kadang saya merasa takjub dengan janji-janji yang menurut kemampuan saya yang lemot ini saya takkan sanggup menjadi malaikat yang mereka janjikan. Janji yang begitu sempurna, seakan janji itu bebas pulsa, padahal selama ini saya selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang jujur, belajar memiliki integritas, takut menggunakan suatu materi yang bukan hak saya, berusaha untuk menyisihkan kelebihan rejeki untuk yang membutuhkan walaupun kebanyakan saya pun berkekurangan.
Saya pernah berfikir bila suatu saat saya dipercaya menjadi caleg dari partai tertentu, hal apa yang bisa saya jual kepada konstituen? Terlintaslah dikepala saya suatu hal yang begitu imajiner, yaitu suatu hal yang saat ini masih menjadi mimpi. Lalu saya pun menyusun hal-hal apa saja yang harus saya lakukan untuk melakukan perubahan dari keadaan saat ini menjadi hal yang saya impikan, ternyata setelah saya timbang2 dan saya pikir2 hal itu bukan perkara mudah, banyak kerja keras yang harus dilakukan, memobilisasi tim yang solid untuk melaksanakan misi itu, membuat regulasi dan merevisi peraturan yang sudah ada, melobi pihak2 lain untuk mendapat dukungan untuk mewujudkan impian itu, mencari referensi yang valid dan inovatif, membuat perbandingan2, kajian2, mensosialisasi program2 dan segudang permasalahan lain belum lagi kendala2 yang akan dihadapi yang semua itu bukan perkara mudah dan ringkas, begitu rumit apalagi ditengah iklim yang korup dan manipulatif, banyak intrik, sumber daya manusia yang lemah, banyak preman dan tukang palak, banyak oposisi, banyak maling, dan mimpi buruk…
Kesimpulannya saya tak sanggup untuk memenuhi janji itu, namun bila partai saya seumpama memaksa dan memfasilitasi saya untuk mengkampanyekan diri saya, kemungkinan di spanduk, baliho atau brosur saya menuliskan kata2 : “BERPIKIRLAH UNTUK MEMILIH SAYA, KARENA PEKERJAAN UNTUK MENJADI ANGGOTA LEGISLATIF BAGI SAYA ADALAH PERKARA YANG SANGAT BERAT, JANGAN SALAHKAN SAYA KALAU TERPILIH NANTI AKAN MENGECEWAKAN ANDA SEMUA YANG TELAH MEMILIH SAYA, SEKALI LAGI JANGAN GEGABAH UNTUK MEMILIH SAYA MENJADI WAKIL ANDA” hal itulah yang terlintas dibenak saya ketika saya akan membuat iklan mengenai diri saya.
Dan saya yakin juga tak bermaksud narsis, diantara segudang kekurangan saya, saya masih memiliki hati yang tulus untuk membantu orang yang tertindas, yang selama ini saya saksikan disekeliling saya, di media massa, dipojok2 seluruh kota yang pernah saya datangi, disemua tempat bumi pertiwi ini yang saya tahu. Dengan setulus hati ini saya ingin tahu apakah masih ada caleg yang berhati tulus? Mungkin tanggal 9 april ini saya akan mencontreng namanya.
Namun bila ada yang bertanya apakah ada wanita yang tulus dan bersih hatinya uuntuk mencinta? Saya jamin masih ada!! (Tulisan ini saya dedikasikan untuk seseorang yang dengan tulus hati aku menyayanginya)..